Sabtu, 18 Mei 2013

0 Benarkah Isra’ Mi’raj pada 27 Rajab & Apa Hukum Merayakan Peringatan Isra Mi'raj?



Benarkah Isra’ Mi’raj pada 27 Rajab?

بسم الله الرحمن الرحيم
Sebagian besar kaum muslimin, terkhusus di negeri ini meyakini bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj jatuh pada malam 27 Rajab. Biasanya mereka isi malam itu dengan qiyamullail kemudian puasa pada siang harinya. Berbagai perayaan pun diadakan untuk memperingati peristiwa yang menjadi salah satu mu’jizat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut. Benarkah Isra’ dan Mi’raj ini terjadi pada malam 27 Rajab?
Para ulama sejak dahulu sudah membahas dan menerangkan permasalahan ini dalam kitab-kitab mereka. Dan kesimpulan dari keterangan mereka adalah:
Bahwa tidak ada satupun dalil yang shahih dan sharih (jelas) yang menunjukkan kapan waktu terjadinya Isra’ dan Mi’raj. Para sejarawan sendiri berbeda pendapat dalam menentukan kapan waktu terjadinya peristiwa itu.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullah menyatakan ada lebih dari sepuluh pendapat yang berbeda-beda dalam menentukan kapan waktu terjadinya Isra’ dan Mi’raj, di antaranya ada yang menyebutkan pada bulan Ramadhan, ada yang menyebutkan pada bulan Syawwal, bulan Rajab, Rabi’ul Awwal, Rab’iul Akhir, dan berbagai pendapat yang lain.
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: “Diriwayatkan dengan sanad yang tidak shahih dari Al-Qasim bin Muhammad bahwa Isra’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terjadi pada 27 Rajab. Riwayat ini diingkari oleh Ibrahim Al-Harbi dan para ulama yang lain.”
Al-’Allamah Abu Syamah rahimahullah dalam kitabnya, Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’ wal Hawaditsmenyebutkan bahwa terjadinya Isra’ bukan pada bulan Rajab. Kemudian beliau juga mengatakan: “Sebagian tukang kisah menyebutkan bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi pada bulan Rajab, perkataan seperti ini menurut ulama ahlul jarh wat ta’dil adalah sebuah kedustaan yang nyata.”
Semakna dengan yang dikatakan oleh Abu Syamah di atas adalah keterangan Ibnu Dihyah, sebagaimana yang dinukilkan oleh Ibnu Hajar rahimahumullahu jami’an.
Sekarang, mari kita menengok bagaimana penjelasan Al-Hafizh An-Nawawi rahimahullah -seorang ulama besar madzhab Syafi’i dan sering dijadikan rujukan oleh kaum muslimin termasuk di Indonesia- terkait permasalahan ini. Dalam kitabnya, Syarh Shahih Muslim, beliau berkata:
“Peristiwa Isra’ ini, sebagian kecil berpendapat itu terjadi 15 bulan setelah diutusnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Harbi mengatakan bahwa itu terjadi pada malam 27 bulan Rabi’ul Akhir, satu tahun sebelum hijrah. Az-Zuhri mengatakan bahwa itu terjadi 5 tahun setelah diutusnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Nabi mengalami peristiwa Isra’ ketika agama Islam sudah tersebar di kota Makkah dan beberapa qabilah.”
Beliau tidak memastikan bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab, beliau hanya sebatas menukilkan pendapat sebagian ulama sebagaimana telah disebutkan.
Sebagian ulama memperkirakan bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini terjadi tiga atau lima tahun sebelum hijrah. Karena setelah mendapatkan wahyu perintah untuk mendirikan shalat lima waktu pada peristiwa tersebut, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam masih sempat menunaikannya beberapa waktu bersama Khadijah radhiyallahu ‘anha, istri beliau. Dan tidak diperselisihkan bahwa Khadijah radhiyallahu ‘anha meninggal tiga atau lima tahun sebelum hijrah. Wallahu a’lam.
Berdasarkan keterangan para ulama di atas, maka kita tidak boleh menetapkan, memastikan, ataupun meyakini bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab. Hanya Allah subhanahu wata’alasajalah yang mengetahui kapan peristiwa tersebut terjadi, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai hamba-Nya yang menjalaninya. Sementara kita tidak mendapatkan satupun ayat al-Qur’an maupun hadits yang memberitakan kapan peristiwa tersebut terjadi.

Hukum Merayakan Peringatan Isra’ Mi’raj

بسم الله الرحمن الرحيم
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang al-amin (yang terpercaya) dan memiliki sifat amanah. Dengan sifat inilah, beliau telah menyampaikan seluruh risalah dan syari’at Allahsubhanahu wata’ala kepada umat ini dengan lengkap dan sempurna. Tidak ada satu kebaikan pun, kecuali pasti telah beliau ajarkan kepada umatnya. Dan tidak ada satu kejelekan pun, kecuali pasti telah beliau peringatkan dan beliau larang umatnya untuk mengerjakannya.
Kalau seandainya peringatan Isra’ Mi’raj itu bagian dari risalah dan syari’at Allah subhanahu wata’ala, pasti beliau telah ajarkan kepada umatnya. Kalau seandainya peringatan Isra’ Mi’raj ini amalan yang baik, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beserta para shahabatnya adalah orang-orang pertama yang mengadakan acara tersebut. Demikian pula para ulama generasi berikutnya yang mengikuti dan meneladani mereka, semuanya akan mengadakan perayaan-perayaan khusus untuk memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sehingga acara peringatan Isra’ Mi’raj, dalam bentuk apapun acara tersebut dikemas, merupakan amalan bid’ah, sebuah kemungkaran, dan perbuatan maksiat karena:
1.            Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri tidak pernah merayakannya atau memerintahkan kepada umatnya untuk merayakannya.
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهْوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk urusan (syari’at) kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)
2.            Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, dan seluruh shahabat radhiyallahu ‘anhum tidak pernah pula merayakannya. Demikian pula para tabi’in, seperti Sa’id bin Al-Musayyib, Hasan Al-Bashri, dan yang lainnya rahimahumullah.
3.            Para ulama yang datang setelah mereka, baik itu imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad), Al-Bukhari, Muslim, An-Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, Ibnul Qayyim, Ibnu Hajar Al-’Asqalani, dan yang lainnya rahimahumullah, hingga para ulama zaman sekarang ini. Mereka semua tidak pernah merayakannya, apalagi menganjurkan dan mengajak kaum muslimin untuk mengadakan peringatan itu. Tidak didapati satu kalimat pun dalam kitab-kitab mereka yang menunjukkan disyari’atkannya peringatan Isra’ Mi’raj.
4.            Kenyataan yang terjadi jika perayaan ini benar-benar diadakan, yaitu munculnya berbagai kemungkaran, di antaranya:
a.       Terjadinya ikhtilath, yaitu bercampurbaurnya antara laki-laki dan perempuan.
b.      Dilantunkannya shalawat-shalawat yang bid’ah dan bahkan sebagiannya mengandung kesyirikan.
c.       Didendangkannya lagu-lagu dan alat musik yang jelas haram hukumnya.
d.      Mengganggu kaum muslimin. Di antara bentuk gangguan itu adalah:
o   Terhalanginya pemakai jalan atau minimalnya mereka kesulitan ketika hendak melewati jalan di sekitar lokasi acara, karena banyaknya orang di sana.
o   Suara musik dan lagu yang sangat keras pada acara terebut, juga mengganggu tetangga dan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi acara. Orang yang telah lanjut usia, orang sakit, maupun bayi-bayi dan anak-anak kecil yang semestinya membutuhkan ketenangan, mereka terganggu dengan adanya suara musik yang sangat keras tadi.
Tidak semestinya beberapa gangguan tadi dianggap sepele dan ringan. Kecil maupun besar, setiap perbuatan yang bisa mengganggu dan menyakiti kaum muslimin, maka pelakunya terkenai ancaman:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al-Ahzab: 58)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Tidak akan masuk al-jannah orang yang tetangganya merasa tidak aman dari gangguannya.” (HR. Muslim)
e.       Tidak sedikit kaum muslimin yang melalaikan shalat berjama’ah di masjid, bahkan yang lebih parah kalau sampai meninggalkan shalat fardhu. Ketika acara dimulai ba’da shalat Isya’ misalnya, sejak sore banyak yang sudah stand by di tempat acara. Mulai dari penjual-penjual dengan aneka barang dagangannya, pengunjung acara, sampai panitia acara pun, mereka lebih memilih berada di ‘pos-pos’ mereka daripada masjid ketika dikumandangkannya adzan maghrib dan isya’. Wal ‘iyadzubillah.
Semestinya umat ini dibimbing untuk kembali kepada agamanya. Mereka sangat antusias menyambut dan menghadiri acara peringatan Isra’ Mi’raj, namun mereka belum memahami hikmah dan pelajaran yang terkandung di dalamnya. Sebuah peristiwa dan mu’jizat besar yang saat itulah kewajiban shalat lima waktu ini diberlakukan kepada umat Islam. Suatu musibah jika salah satu rukun Islam ini dilalaikan hanya karena ingin ‘menyukseskan’ acara yang sudah pasti menelan biaya yang tidak sedikit tersebut.
Kalau masih ada yang beranggapan bahwa perayaan untuk memperingati Isra’ Mi’raj itu adalah baik, maka katakan sebagaimana kata Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah:
مَن ابْتَدَعَ في الإِسلام بدعة يَراها حَسَنة ؛ فَقَدْ زَعَمَ أَن مُحمّدا – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- خانَ الرّسالةَ ؛ لأَن اللهَ يقولُ : { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } فما لَم يَكُنْ يَوْمَئذ دينا فَلا يكُونُ اليَوْمَ دينا
“Barangsiapa yang mengadaka-adakan kebid’ahan dalam agama Islam ini, dan dia memandang itu baik, maka sungguh dia telah menyatakan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah berkhianat dalam menyampaikan risalah, karena Allah telah berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
(Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian), maka segala sesuatu yang pada hari (ketika ayat ini diturunkan) itu bukan bagian dari agama, maka pada hari ini pun juga bukan bagian dari agama.”
Kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala hidayah untuk senantiasa berpegang teguh dengan Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, sampai akhir hayat nanti. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Kamis, 16 Mei 2013

0 Muhammad Al-Fatih dan Pendidikan Karakter


Pendidikan karakter adalah sebuah program sekolah untuk membentuk anak-anak muda secara sistematis dengan nilai-nilai yang diyakini dapat merubah prilaku mereka. Atau dapat pula diartikan sebagai penanaman sifat sopan, sehat, kritis, dan sikap-sikap sosial seperti kewarganegaraan yang dapat diterima masyarakat. (Lockwoot A.T. Charakter Education: Controversy and Consensus, 1988).

Dalam Islam, karakter identik dengan adab yang biasa disebut akhlak, orang bugis menamainya ampe-ampe atau tingkah laku, berupa kecenderungan jiwa untuk bersikap dan bertindak secara otomatis. Adab yang sesuai dengan ajaran Islam disebut akhlaqul karimah atau ampe-ampe madeceng yang hanya dapat diperoleh melalui dua jalan. Pertama, bawaan lahir sebagai karunia Allah -the gift- sebagaimana akhlak para nabi dan rasul. Dan kedua, sebagai hasil usaha pendidikan dan penempahan exercise terhadap jiwa soul. Dengan itu program pendidikan karakter yang kini sedang ditekankan oleh pemerintah pada dasarnya sejalan dengan Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai akhlaqul karimah, dan sangat sejalan dengan falsafah orang Bugis, local wisdom.

Selain sifat terpuji, pendidikan karekter pada hakikatnya menanamkan jati diri yang tangguh kepada peserta didik, sehingga ketika baranjak dewasa mereka mampu mempertahankan dan membela kebenaran. Sebagaimana yang telah Rasulullah ajarkan kepada para sahabatnya, beliau membangun karakter yang tangguh sehingga dapat melahirkan pribadi yang mumpuni, salah satunya adalah karakter Umar bin Khattab, yang sebelum masuk Islam merupakan pribadi yang beringas dan tak terkendali, namun ketika menjadi muslim, Rasulullah membangun karakternya, dan berhasil menjadi pemimpin yang ditempatkan oleh M. Harts dalam “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, 1978” pada urutan ke-51 sebagai manusia paling berpengaruh dalam sejarah dunia.

Semasa menjabat sebagai khalifah, khususnya dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Arab berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641, pasukan Arab telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639, pasukan Arab menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Sungguh aneh jika ada aliran yang menamai diri mereka sebagai pencinta keluarga Nabi ‘Ahlul bait’ lalu melancarkan fitnah yang keji dan biadab terhadap Umar bin Khattab dan menuduhnya sebagai sahabat yang murtad, serta menganggap Rasulullah telah gagal mengajar dan membina para sahabatnya. Aliran inilah yang disebut Syiah-Rafidhah, yang telah disesatkan oleh MUI Jatim dan Depag RI.

Karakter Religius

Sewaktu mengajar di Malaysia, saya memiliki seorang rekan berkebangsaan Turky yang juga berprofesi sebagai guru di tempat yang sama, beliau adalah lulusan Universitas Al-Azhar Mesir dan mantan wartawan BBC, berkali-kali beliau menceritakan bagaimana orang Turky membangun karakter para pemudanya sehingga sanggup bertahan selama berabad-abad sebagai penguasa Dinasti Utsmaniyah yang terbentang dari Timur Asia hingga Barat Eropa.

Salah satu karakter pemimpin yang dibangun dari keluarga dan guru yang memiliki karakter kuat, tangguh, namun salih adalah seorang pahlawan Islam yang tak pernah lekang oleh zaman. Dialah Muhammad al-Fatih.

Muhammad al-Fatih, sosok yang sejak kanak-kanak telah ditanamkan karakter yang kuat dan melekat dalam jiwanya agar kelak dapat menaklukkan Konstantinopel. Gurunya, selain mengajarkan Islam dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya, rajin mengajak al-Fatih kecil memandangi benteng Konstantinopel di kejauhan sambil berujar. “Lihatlah di seberang sana, Rasulullah pernah bersabda bahwa benteng itu akan ditaklukkan seorang pemimpin yang merupakan sebaik-baik pemimpin dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara. Saya percaya pemimpin itu adalah kamu!”

Nyaris setiap hari kata-kata itu dirilis dan akhirnya menumbuhkan karakter yang penuh dengan keyakinan dan semangat yang berapi-api. Sudah delapan abad berlalu, sejak masa sahabat Nabi, Konstantinopel tak pernah tersentuh apalagi tertakluk. Kota yang dikelilingi benteng dengan tembok setebal sepuluh meter, di sekeliling benteng masih terdapat parit dalam yang menganga selebar tujuh meter.

Jika diserang dari arah barat, ada benteng dua lapis. Dari selatan, ada pelaut Genoa yang tangguh dan berpengalaman. Sementara masuk dari arah Timur tidak mungkin karena armada laut harus masuk ke selat Golden Horn yang dilindungi rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak dapat lewat. Ayah dan kakek serta pemimpin perang lainnya telah berkali-kali gagal menaklukkan kota tersebut. Kini al-Fatih kembali mencoba.

Ketika beribu-ribu pasukannya selama berpekan-pekan hanya berada di sekeliling benteng dan tak juga berhasil memasukinya, al-Fatih dengan karakter kuat hasil dari didikan sang guru dan ayah, tak ingin menyerah dan akhirnya menemukan celah, adanya kelemahan pertahanan lawan di selat sempit Golden Horn, mereka beranggapan bahwa tak satu pun kapal yang sanggup melewati rantai yang dipasang dalam laut sehingga menjadikan pertahanan pada bagian ini agak lemah.

Al-Fatih melakukan ide ‘gila’ dengan menggotong kapal pasukannya melalui darat melintasi pegunungan, sebuah sejarah peperangan yang tak perrnah ada sesudah dan sebelumnya bagi umat manusia. Hanya dalam waktu semalam, 70 kapal perang pindah dari laut Selat Bosphorus menuju Selat Tanduk untuk kemudian melancarkan serangan tak terduga yang berakhir dengan kemenangan yang telah dinanti berabad-abad lamanya.

Banyak analisa yang muncul dari para sejarawan, Timur maupun Barat. Namun yang paling berpengaruh dari kesuksesan al-Fatih adalah adanya pendidikan dan penanaman karakter yang tangguh sejak dini. Sang ayah mencarikan guru terbaik dan memberi otoritas penuh pada sang guru untuk mendisiplinkan putra mahkota, termasuk memukul jika ia bandel. Namun al-Fatih kecil menertawakan tindakan ayah dan gurunya itu, tapi saat itu juga pukulan melayang padanya. Sejak saat itu ia tahu jika dirinya harus taat guru, disiplin, menghormati orang tua dan orang lain, menjaga sikap, sekalipun ayahnya seorang khalifah.

Pendidikan karakter yang telah ditanamkan padanya membuat al-Fatih menjadi murid yang cerdas namun salih. Ia menguasai sedikitnya enam bahasa, ilmu politik, pemerintahan, matemattika, pengetahuan alam, ilmu militer, dan lainnya. Saat berumur 19 tahun –masa tawuran bagi para pelajar kita saat ini—beliau sudah didaulat menjadi sultan dan panglima perang dan telah menjadi pribadi yang matang. Pada usia 21 tahun –usia berdemo bagi para mahasiswa kita—al-Fatih menjalankan misi pembebasan konstantinopel yang berhasil dengan gemilang.

Ketika pasukan berhasil menguasai Kota Konstantinopel yang bertepatan dengan hari Jumat. Untuk menentukan siapa yang pantas mengisi khutbah dan menjadi imam salat Jumat, sang Sultan bertanya, “Siapakah yang sejak akil balig hingga hari ini pernah meninggalkan salat wajib lima waktu, yang merasa silahkan duduk!” tak seorang pun yang duduk. Muhammad al-Fatih kembali bertanya, “Siapa yang sejak akil balig sampai hari ini pernah meninggalkan salat sunnat rawatib, yang merasa silahkan duduk!” Sebagian pasukan mulai ada yang duduk. Sultan kembali bertanya, “Siapakah yang sejak akil balig tak pernah alpa melakukan salat tahajjud, yang merasa silahkan duduk!" Semua pasukan mulai duduk kecuali sang sultan sekaligus panglima itu tetap tegak berdiri.

Kota Konstantinopel diubah namanya oleh Al-Fatih dengan Islambul lalu diganti oleh Mustafa Kemal Attarurk dengan Istambul yang kini menjadi ibu kota Turky yang berada di dua Benua, Asia dan Eropa.

Wajar saja jika Rasulullah menggambarkan bahwa yang akan menaklukkan Konstantinopel adalah pemimpin terbaik dengan pasukan terbaik sebagai buah dari pendidikan karakter religius dan berbasis agama yang sinergi antara anak, guru, orang tua hingga penguasa.Wallahu a’lam!


Selasa, 16 April 2013

0 Umat Islam Masih Ada Yang Berbuat Syirik


Sebagian orang menyangka bahwa dengan seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia tetap dikatakan muslim. Selama ia mengucapkan “laa ilaha illallah” dan bersaksi Muhammad adalah utusan Allah, maka dia masih disebut muslim. Walaupun ia berbuat syirik, melariskan tradisi sesajen, meminta do’a pada kubur wali atau menjadikan wali sebagai perantara dalam do’a dan terdapat ibadah yang dipalingkan pada selain Allah, atau melakukan tumbal sebagai sesajian, maka tetaplah muslim.

Padahal sejatinya tidaklah seperti itu. Sudah menjadi sunnatullah bahwa umat ini akan mengikuti jejak umat sebelumnya. Jika Yahudi dan Nashrani menjadi pengikut setan, maka umat Islam pun akan demikian.

Langkah Demi Langkah akan Diikuti

Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).
Ibnu Taimiyah menjelaskan, tidak diragukan lagi bahwa umat Islam ada yang kelak akan mengikuti jejak Yahudi dan Nashrani dalam sebagian perkara. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 27: 286.

Syaikhul Islam menerangkan pula bahwa dalam shalat ketika membaca Al Fatihah kita selalu meminta pada Allah agar diselamatkan dari jalan orang yang dimurkai dan sesat yaitu jalannya Yahudi dan Nashrani. Dan sebagian umat Islam ada yang sudah terjerumus mengikuti jejak kedua golongan tersebut. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 1: 65.

Imam Nawawi -rahimahullah- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dandziro' (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.” (Syarh Muslim, 16: 219)

Ahli Kitab Menyembah Jibt dan Thogut

Ahli kitab ada yang mengimani jibt dan thogut. Yang dimaksud jibt adalah berhala, tukang sihir dan dukun. Sedangkan thogutadalah sesuatu yang hamba melampaui batas terhadapnya, termasuk di dalamnya sihir dan dukun. Jadi, thogut ada yang berasal dari jin dan manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut” (QS. An Nisa’: 51).

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ
“Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?" (QS. Al Maidah: 60)
Ayat-ayat ini menerangkan bahwa ahli kitab ada yang beriman pada jibt dan thogut. Jika dikatakan di awal bahasan bahwa umat Islam akan senantiasa mengikuti jejak Yahudi dan Nashrani, maka yang seperti ini pun akan mereka ikuti. Ada di antara mereka percaya pada sihir, bahkan menjadi tukang sihir dengan santet dan semacamnya. Ada juga yang percaya pada ramalan para dukun. Setiap tindakan ahli kitab akan diikuti oleh umat ini. Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.”

Bahkan dalam hal kesyirikan yang dilakukan orang musyrik akan diikuti oleh umat ini. Lihat hadits yang disebutkan dalam point berikutnya.

Jejak Orang Musyrik akan Diikuti

Imam Muslim meriwayatkan dari Tsauban, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

"إن الله زوى لي الأرض، فرأيت مشارقها ومغاربها، وإن أمتي سيبلغ ملكها ما زوي لي منها، وأعطيت كنـزين : الأحمر والأبيض، وإني سألت ربي لأمتي أن لا يهلكها بسنة بعامة، وأن لا يسلط عليهم عدوا من سوى أنفسهم فيستبيح بيضتهم، وإن ربي قال : يا محمد إني إذا قضيت قضاء فإنه لا يرد، وإني أعطيتك لأمتك أن لا أهلكهم بسنة بعامة، وأن لا أسلط عليهم عدوا من سوى أنفسهم فيستبيح بيضتهم، ولو اجتمع عليهم من بأقطارها، حتى يكون بعضهم يهلك بعضا، ويسبي بعضهم بعضا".
“Sungguh Allah telah membentangkan bumi kepadaku, sehingga aku dapat melihat belahan timur dan barat, dan sungguh kekuasaan umatku akan sampai pada belahan bumi yang telah dibentangkan kepadaku itu. Aku pun diberi dua simpanan yang berharga, merah dan putih (imperium Persia dan Romawi), dan aku minta kepada Rabbku untuk umatku agar jangan dibinasakan dengan sebab kelaparan (paceklik) yang berkepanjangan, dan jangan dikuasakan kepada musuh selain dari kaum mereka sendiri, sehingga musuh itu nantinya akan merampas seluruh negeri mereka.
Kemudian Allah berfirman, “Wahai Muhammad, jika aku telah menetapkan suatu perkara, maka ketetapan itu tak akan bisa berubah, dan sesungguhnya Aku telah memberikan kepadamu untuk umatmu untuk tidak dibinasakan dengan sebab paceklik yang berkepanjangan, dan tidak akan dikuasai oleh musuh selain dari kaum mereka sendiri, maka musuh itu tidak akan bisa merampas seluruh negeri mereka, meskipun manusia yang ada di jagad raya ini berkumpul menghadapi mereka, sampai umatmu itu sendiri sebagian menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian meraka menawan sebagian yang lain.”
Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al Barqani dalam shahihnya dengan tambahan,

"وإني أخاف على أمتى الأئمة المضلين، وإذا وقع عليهم السيف لم يرفع إلى يوم القيامة، ولا تقوم الساعة حتى يلحق حي من أمتى بالمشركين، وحتى تعبد فئام من أمتى الأوثان، وإنه سيكون في أمتى كذابون ثلاثون، كلهم يزعم أنه نبي، وأنا خاتم النبيين، لا نبي بعدي، ولا تزال طائفة من أمتى على الحق منصورة، لا يضرهم من خذلهم ولا من خالفهم، حتى يأتي أمر الله تبارك وتعالى".
“Dan yang aku khawatirkan terhadap umatku tiada lain adalah adanya pemimpin yang menyesatkan, dan ketika terjadi pertumpahan darah di antara mereka, maka tidak akan berakhir sampai datangnya hari kiamat. Lalu hari kiamat tidak akan kunjung tiba kecuali ada di antara umatku yang mengikuti orang musyrik dan sebagian lain yang menyembah selain Allah (pohon dan batu, -pen). Sungguh akan ada pada umatku 30 orang pendusta, yang mengaku sebagai Nabi, padahal aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi lain setelah aku, meskipun demikian akan tetap ada segolongan dari umatku yang tetap tegak membela kebenaran, dan mereka selalu mendapat pertolongan Allah Ta'ala (thoifah al manshurah), mereka tak tergoyahkan oleh orang-orang yang menelantarkan mereka dan memusuhi mereka, sampai datang keputusan Allah”.
Dari sini, Syaikh Muhammad At Tamimi menyampaikan dalam Kitab Tauhidnya, “Masalah yang sangat penting sekali (untuk direnungkan), yaitu pengertian tentang beriman terhadap Jibt dan thoghut (selain Allah), apakah sekedar mempercayainya dalam hati, atau mengikuti orang-orangnya, sekalipun membenci barang-barang tersebut dan mengerti akan kebatilannya ?”

Kalau kita melihat dari penjelasan di atas, mengikuti jejak Yahudi dan Nashrani walau membenci kedua agama tersebut, namun malah mengikuti jejak dan langkah mereka, ini pun bentuk mengimani Jibt dan Thogut. Wallahul musta’an.

Jika memang umat ini terbukti masih ada yang berbuat syirik, bahkan di lapangan terbukti demikian, maka sudah sepantasnya kita lebih mengokohkan tauhid kita lagi dengan mempelajari tauhid dan syirik. Dan memang di antara umat Islam akan ada segolongan orang yang terus berpegang teguh pada kebenaran, merekalah ath thoifah al manshurah, yang mendapatkan pertolongan. Semoga Allah memasukkan kita sekalian ke dalam golongan tersebut yang berpegang teguh dengan kebenaran di tengah keterasingan.

Hanya Allah yang memberi hidayah dan taufik.

Referensi:

Al Mulakhosh fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Darul ‘Ashimah, cetakan pertama, 1422 H.

I’anatul Mustafid bi Syarh Kitab At Tauhid, Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1428 H.

* Syaikh Dr. Sholih Al Fauzan adalah salah satu ulama senior di Kerajaan Saudi Arabia, berdomisili di kota Riyadh. Beliau adalah lulusan Doctoral pertama dari Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud di Riyadh KSA, dari jurusan Fikih. Beliau banyak memiliki tulisan dalam akidah dan banyak menjelaskan kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, juga memiliki karya dalam bidang fikih seperti Al Mulakhos Al Fiqhiy. Kesibukan beliau saat ini adalah sebagai anggota Al Lajnah Ad Daimah dan juga anggota Hay-ah Kibaril ‘Ulama.


Senin, 15 April 2013

0 Tathayyur (Pamali) Adalah Syirik


Tathayyur (Pamali) Adalah Syirik

Dari Anas -radhiallahu ‘anhu- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ
“Tidak ada ‘adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak adathiyarah. Dan yang menakjubkanku adalah al-fa’lu yang baik yaitu kalimat yang baik.” (HR. Al-Bukhari no. 5756 dan Muslim no. 2224)

Dari Abdullah bin Mas’ud dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلَاثًا
“Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik -tiga kali-.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3528)

Penjelasan ringkas:

Thiyarah atau di negeri kita biasa disebut pamali merupakan salah satu dari bentuk-bentuk kesyirikan yang tersebar luas di masyarakat, sampai-sampai tidaklah ada satu daerah kecuali mempunyai tathayyur sendiri yang terkadang berbeda dengan daerah lainnya.

Thiyarah dihukumi kesyirikan berdasarkan kaidah yang telah kita pernah singgung sebelumnya pada pembahasan jimat, yaitu: Menjadikan sesuatu menjadi sebab padahal dia bukanlah sebab syar’i dan bukan pula sebab kauni adalah kesyirikan, maka itu adalah syirik asghar. Misalnya meyakini bahwa adanya burung gagak di atas sebuah rumah menunjukkan akan ada hal jelek yang akan menimpa penghuninya. Burung gagak bukanlah sebab syar’i dari timbulnya musibah, yakni syariat tidak pernah menerangkan kalau itu merupakan sebab datangnya musibah. Dan dia juga bukanlah sebab kauni dari timbulnya musibah, maksudnya sama sekali tidak ada hubungan sebab akibat antara burung gagak dan musibah. Karenanya menjadikan gagak sebagai sebab datangnya musibah merupakan syirik asghar.

Hanya saja, hukum tathayyur ini bisa menjadi syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Yaitu jika dia sudah tidak meyakini sesuatu itu menjadi sebab, akan tetapi dia meyakini sesuatu itulah yang berbuat dengan sendirinya. Misalnya pada contoh di atas: Jika dia menjadikan burung gagak sebagai sebab musibah dan tetap meyakini musibah datangnya dari Allah maka ini adalah syirik asghar. Tapi jika dia meyakini burung gagak inilah yang mendatangkan musibah (bukan sebagai sebab), maka ini adalah syirik akbar dalam masalah rububiah, karena dia meyakini adanya makhluk yang juga mengatur maslahat dan mafsadat di samping Allah Ta’ala.

Adapun contoh al-fa`lu misalnya dia mendapatkan sebuah masalah, lalu ketika dia berpikir akan jalan keluarnya, tiba-tiba temannya yang bernama Sahl datang, dan Sahl maknanya adalah kemudahan. Ketika Sahl datang, diapun berharap kepada Allah semoga masalahnya menjadi mudah, tapi harapannya ini muncul karena datangnya Sahl, temannya. Maka dari penggambaran di atas kita bisa melihat bahwa al-fa`lu yang disenangi oleh Rasulullah -alaihishshalatu wassalam-, tidak ada di dalamnya ketergantungan hati kepada selain Allah Ta’ala. Bahkan yang ada adalah hati bertambah semangat dan menguat untuk mewujudkan apa yang dia inginkan, tatkala dia mendengar atau melihat sesuatu yang menyenangkan. Jadi, thiyarah merupakan kesyirikan kepada Allah, sementara al-fa`lu adalah ibadah raja` (harapan) dan husnuzhzhan(berprasangka baik) kepada Allah Ta’ala.

Kamis, 21 Februari 2013

0 Sepenggal Kisah Umar bin Khathab


“Barang siapa yang menyembah Muhammad sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Barangsiapa yang menyembah Allah, sesunggahnya Allah Maha Hidup dan tidak mati.”

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)

kata-kata singkat dan ayat penuh makna itu keluar dari lisan Abu Bakar ash-shiddiq di hadapan umat Islam. Semuanya bungkam, tak bergeming, seolah-olah baru mendengar ayat ini. seakan-akan ayat ini belum pernah turun sebelumnya. Semakin yakinlah mereka bahwa sosok yang mereka cintai, Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah meninggalkan dunia yang fana ini menemui Rabb-nya yang Maha Kekal.

Umar bin Khattab semula tidak percaya bahwa Rasulullah telah wafat. Ia yakin bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pergi menemui Rabb-nya sebagaimana Musa menemui-Nya selama 40 malam. Namun, setelah mendengar petuah dan nasehat mertua Rasulullah, Abu Bakar ash-shiddiq, jatuhlah dia, terduduk di tanah. Kakinya serasa berat untuk digerakkan. Bisa dibayangkan bagaimana sedihnya para sahabat dan umat Islam kehilangan orang tercinta, guru terbaik, sahabat tersayang. tak terkecuali Umar bin Khattab radhiyallahu anhu.

Umar bin Khattab dikenal sebagai sahabat yang keras, tegas, kuat dan sangat disegani hingga Rasulullah bersabda bahwa jika syetan melihat Umar berlalu atau melintasi satu jalan, maka syetan akan memilih jalan lain. Meski demikian, dia juga manusia biasa yang bisa sedih, bisa lemah, terlebih saat mendengar dan melihat sahabatnya meninggal dunia. Berapa banyak nasehat yang didapatnya dari Rasulullah, tak terhitung ilmu yang diterimanya dari Rasulullah hingga dia menjadi manusia yang memiliki derajat tinggi di sisi Allah. Sebelumnya dia adalah penyembah berhala. Cahaya Islam telah membawanya menjadi manusia yang unggul.

Kedekatannya dengan Rasulullah bisa dilihat lewat riwayat-riwayat dah hadits-hadits Nabawiyah. Abdullah bin Abbas sering mendengar Nabi bersabda, “Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar, Aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar. Aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar.” (Muttafaq ‘alaihi).

Kisah lain dituturkan oleh Anas bin Malik, ”Suatu ketika Nabi, Abu Bakar, Umar, dan Utsman berjalan menaiki Gunung Uhud. Tak lama kemudian gunung itu berguncang. Lalu Nabi bersabda, “Tenanglah, hai Uhud! Sesungguhnya di atasmu ada seorang Nabi, seorang Shiddiq (Abu Bakar), dan dua orang syahid (Umar dan Utsman).” (Muttafaq ‘alaihi).

Umar Menangis

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Umar juga memiliki hati yang lembut meskipun ia keras dan tegas. Rasulullah pernah menceritakan mimpinya, “Ketika aku tidur, aku bermimpi sedang berada di dalam Surga. Saat itu ada seorang wanita yang berwudhu di samping sebuah Istana. Aku bertanya (kepada para malaikat), “Milik siapakah istana ini?”, mereka menjawab, “Istana ini milik Umar.” Lalu Rasulullah menyebutkan ihwal kecemburuan Umar terhadap apa yang menjadi miliknya lalu pergi. Mendengar perkataan Rasulullah, air mata Umar pun menetes, “Pantaskah aku cemburu kepada engkau wahai Rasulullah?” ucapnya kemudian.

Ketika tersebar kabar bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hendak menceraikan istri-istrinya, umar merasa resah. Kemudian ia menemui Rasulullah di dalam kamarnya. Umar masuk ke kamar dan menjumpai Nabi sedang berbaring di atas sehelai tikar yang terbuat dari pelepah daun kurma, sehingga badan Nabi berbekas. Umar juga melihat tiga lembar kulit binatang yang telah disamak dan sedikit gandum di sudut kamar. Selain itu tak terdapat apapun. Melihat pemandangan kamar demikian, menangislah Umar. Umar prihatin melihat keadaan Rasulullah, sangat jauh berbeda dengan keadaan Kaisar Romawi dan Kisra yang hidup mewah bergelimang harta. Rasulullah pun menasehatinya, “Wahai Umar, sepertinya engkau masih ragu dengan hal ini. kenikmatan di akhirat, tentu lebih baik daripada kesenangan hidup dan kemewahan di dunia ini. jika orang-orang kafir itu dapat hidup mewah di dunia ini, kita pun akan memperoleh segala kenikmatan itu di akhirat nanti. Di sana kita akan mendapat segala-galanya.” Mendengar sabda Rasulullah, Umar pun menyesal dan meminta pada Rasulullah agar memohonkan ampun pada Allah untuk dirinya.

Makam Umar bin Khattab

Umar terbunuh di kota Madinah akibat tikaman sebilah pisau beracun Abu Lu’luah seorang Majusi Persia (baca: Iran) saat meng-imami kaum muslimin shalat subuh. Di kemudian hari Abu Lu’luah ini dipuja-puja oleh kelompok Syi’ah Rafidhah karena berhasil membunuh orang yang telah menghancurkan dan menaklukkan Persia.

Umar memang mendambakan dan menginginkan mati syahid fi sabilillah di kota Madinah, dan Allah mengabulkan do’anya itu. Ia juga dimakamkan bersebelahan dengan dua sahabatnya tercinta, yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan Abu Bakar ash-shiddiq.

Ada satu kisah menarik berkenaan dengan makam Umar dan Abu Bakar ini. Kisah ini terdapat dalam Majalah Qiblati edisi Ramadhan 1433 H.

Alkisah, ada seorang syiah yang berkunjung ke kota Madinah dan hendak menziarahi makam Rasulullah. Ketika ia sampai di makam Rasulullah, ia memberi salam dan mendo’akan beliau. Ada yang aneh, dia melihat orang-orang di dekatnya ikut mendoakan dua makam di dekat makam Rasulullah. Dua makam itu tidak lain adalah makam Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Alangkah kaget dan terkejut dia melihat hal tersebut. Musuh terbesar dalam agamanya yaitu Abu Bakar dan Umar, musuh yang selalu ia cela, maki, dan ia kafirkan selama ini justru dikuburkan berdampingan dengan makam orang yang dicintainya. Bagaimana mungkin musuh dimakamkan dekat dengan Rasulullah!? Ia pun tersadar, dan merasa dibohongi oleh para ulama syi’ah. Kemudian dia bertaubat memohon ampun pada Allah dan mengganti aqidahnya dari syi’ah menjadi ahlus sunnah. (Kisah lengkapnya Anda bisa baca pada link ini: http://galerisunnah.blogspot.com/2013/02/islamnya-seorang-penganut-syiah.html

Tidaklah terlalu mengherankan, karena imam Syiah sendiri (orang yang yang mereka anggap sebagai Imam), Ali bin Musa Ar-Ridha dikuburkan dekat dengan makam khalifah Abbasiyah yang Sunni, Harun ar-Rasyid di kota Masyhad (dulu bernama Thus), Iran. Bahkan, orang yang dianggap sebagai Imam ke-8 oleh orang Syi’ah ini yang meminta sendiri agar dimakamkan di sisi makam Harun ar-Rasyid. Makam Imam Ali bin Musa ar-Ridha melekat dengan makam Harun Ar-Rasyid di bawah kubah yang sama dalam masjid yang sama di Kota Masyhad, Iran.

Kata Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi, “Tidak mungkin seorang laki-laki memberikan wasiat untuk dikuburkan di sisi jenazah seseorang, melainkan jika jenazah tersebut termasuk golongan orang-orang shalih dan bertakwa.” (Majalah Qiblati, edisi Rabiul Akhir 1433 H)

Bagaimana tanggapan Syi’ah atas kuburan Umar yang berada di sisi Rasulullah dan Imam Ali ar-Ridha yang berada bersebelahan dengan makam Harun ar-Rasyid? Biarlah mereka yang menjawabnya.


0 Islamnya Seorang Penganut Syi’ah


Putra sulung Abdushshamad Busyahri, Hamid Busyahri Abu Utsman menuturkan kepada saya salah satu kisah terunik dan paling mengesankan bagi saya. Dia berkata,

Lima puluh tahun yang lalu, ayah saya, H. Abdushshamad Busyahri adalah seorang penganut Syiah yang sangat rajin mengunjungi majlis-majlis syirik yang dengan penuh kepalsuan dan kepura-puraan yang mereka beri nama al-Husainiyyah. Sebuah penisbatan kepada al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, padahal beliau sendiri tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan majelis ini maupun orang-orang yang menghadirinya sampai hari kiamat kelak. Ayah adalah seorang laki-laki yang multazim (taat, konsisten) dan dermawan. Orang-orang fakir saban hari mendatangi kantornya. Meskipun tidak bisa baca-tulis, beliau memiliki perhatian besar terhadap majelis-majelis zikir dan kajian-kajian yang disampaikan oleh para ulama Syiah yang datang dari Najef dan Qumm.

Sebagaimana penganut syiah lainnya, sejak kecil ayah telah melahap dongeng dan kedustaan para sayid Rafidhah (setiap orang yang mengklaim dirinya bernasab kepada keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disebut sayyid, dan mayoritas orang yang mereka klaim sebagai sayyid, tidak benar penasaban mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) bahwa para khalifah kaum muslimin adalah musuh ahlulbait, musuh Rasulullah dan musuh Islam. Musuh terbesar Rasulullah dan keluarga beliau yang suci ialah Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin al-Khattab –mudah-mudhan Allah meridhai mereka dan menjadikan mereka ridha- demikian juga dengan kedua putri mereka yang suci, istri-istri Nabi, serta ibunda kaum mukminin, meskipun orang-orang zindik tersebut tiada menyukai kenyataan ini.

Ayah menelan mentah-mentah kedustaan demi kedustaan nista ini hingga membuatnya bereaksi mencaci kedua orang yang dikasihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut setiap kali mendengar nama mereka. Beliau pun tumbuh besar seperti orang-orang Rafidhah lainnya membeo mengulang-ulang caci-makian terhadap ash-shiddq dan al-Faruq serta sahabat mulia lainnya. Mereka mengulang-ulang apa yang mereka dengar dari para tokoh spiritual mereka, para sayid yang kafir lagi zindik, para mu’ammim (sebutan bagi para ulama Syi’ah yang kebanyakan mereka mengenakan imamah hitam membalut kepala mereka). Semoga Allah menimpakan kepada mereka hukuman yang berhak mereka terima.

Ketika usia beliau mendekat empat puluh lima tahun, ayah memutuskan untuk memperbaharui hidupnya dengan menunaikan ibadah haji ke Baitullah al-Haram. Ayah bermaksud bergabung dengan biro perjalanan haji Rafidhah, yang saat itu masih satu-satunya, karena populasi mereka saat itu tidak sampai 2% dari jumlah total penduduk.

Ayah saya Abdushshamad Busyahri tinggal di distrik al-Qaar, di Negara Kuwait. Distrik al-Qaar merupakan perkampungan orang-orang Rafidhah hingga saat ini. Beliau bekerja di kementerian Kesehatan kala itu. kebetulan, Kementerian Kesehatan memutuskan merekomendasikan beliau menjadi salah seorang tenaga tim kesehatan jemaah haji Kuwait di tanah Haram. Ayah pun bingung apakah bergabung dengan tim kesehatan Kuwait atau dengan biro haji Rafidhah.

Ayah bertukar pikiran dengan pimpinan Tim Kesehatan, Ibrahim al-Mudhaf. Beliau menyarankan untuk bergabung dengan Tim Kesehatan, karena bagaimanapun tim memiliki fasilitas dan kesiapan yang lebih lengkap dan lebih memadai. Dia juga berkata kepada ayah, “Saudaraku Abdushshamad, setelah kita sampai di tanah suci, anda dapat bergabung dengan rombongan tersebut, atau anda dapat mengunjungi siapa saja yang anda inginkan dalam kafilah itu. kita fleksibel saja, anda tidak selalu harus terikat dengan kami.” Akhirnya ayah saya Abdushshamad memutuskan bergabung dengan tim kesehatan kerajaan Kuwait. Jika telah sampai di sana ia akan bergabung dengan rombongan Syi’ah Rafidhah tersebut untuk melaksanakan manasik haji ala mereka.

Allah menakdirkan rombongan tim kesehatan tersebut menginap di Madinah an-Nabawiyah selama beberapa hari sebelum menuju ke Makkah al-Mukarramah, bertepatan dengan sampainya rombongan Rafidhah ke sana. H. Abdushshamad meminta izin dari pimpinan tim untuk bergabung dengan kafilah Rafidhah. Ketika sampai di sana mereka sedang bersiap-siap untuk menzirahi kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Masjid an-Nabawiy dengan jalan kaki. Pimpinan rombongan, seorang sayid mu’ammim, berdiri di tengah mereka seraya berkata, “Sekarang, kita semua akan menziarahi kuburan Rasul yang paling agung….”

Dalam perjalanan, sayid berkata, “Saya akan berdoa di sisi kuburan Nabi, kalian semua ikutilah doa yang saya baca!”, Ayah saya, Abdushshamad, berkata, “Saya pun memasuki masjid an-Nabawiy dan merasa gemetar karena kewibawaan dan keagungannya. Ayah berjalan bersama anggota rombongan, sayid mu’ammim berada di depan kami. Rombongan berhenti di sisi kuburan Nabi yang mulia, kemudian berdo’a menirukan sayid.”

Ayah melanjutkan, “Saat kami berdiri di sisi kuburan Nabi, tiba-tiba seorang laki-laki tua Saudi berdiri tidak jauh dariku sehingga saya dapat mendengarkan ucapan salamnya kepada al-Mushthafa shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Salam sejahtera untuk anda wahai Rasulullah, semoga rahmat dan berkah Allah terlimpah kepada Anda. Semoga Allah memberikan imbalan kepada anda atas kebaikan dan jasa-jasa Anda kepada umat; semoga Dia melipat gandakan kebaikan bagi Anda, berbuat baik kepada Anda sebagaimana Anda telah berbuat baik kepada umat ini. Saya bersaksi bahwa anda telah menyampaikan risalah, telah menunaikan amanah, telah menasihati umat dan telah bersungguh-sungguh menyampaikan agama Allah. Ya Allah berikanlah kepada Muhammad, al-Wasilah dan karunia, bangkitkanlah beliau kelak dengan kedudukan yang terpuji, sebagaimana yang telah Engkau janjikan, sesungguhnya Engkau tidak akan mengingkari janji.’ Saya pun kagum dengan adab dan ketenangan orang tua itu dalam berdoa.”

Ayah melanjutkan ceritanya, “Yang mengejutkan ialah saat orang tua itu melihat dan menoleh ke kanan kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, saya mendengar dia berkata, ‘Salam sejahtera kepadamu wahai Abu Bakar Ash-Shiddiq, semoga rahmat dan berkah Allah tercurah kepadamu, semoga Allah meridhaimu wahai Abu Bakar, semoga Allah memberikan imbalan kebaikan atas jasa-jasa anda kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Saya pun terkejut mendengarkan ucapannya dan semakin heran ketika laki-laki tua itu menoleh ke arah kiri kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata, ‘Salam sejahtera untuk anda wahai Umar bin al-Khaththab, semoga rahmat dan berkah Allah tercurah kepada anda, semoga Allah meridhai anda wahai Umar, semoga Allah memberi imbalan atas jasa anda kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam’.”

Ayah saya, Abdushshamad berkata, “Saya tidak bisa menahan diri, saya pun memegang pundak laki-laki tua itu sambil berkata kepadanya, ‘Apakah anda berziarah ke kuburan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam atau ke keburan Abu Bakar dan Umar hingga anda mengucapkan salam kepada keduanya di sini?!’

Lelaki tua itu menjawab, ‘Saudaraku, bagaimana aku tidak mengucapkan salam kepada keduanya, sementara di hadapanku ini kuburan keduanya?! Ini kuburan Abu Bakar dan ini kuburan Umar radhiyallahu anhuma’.

Dengan suara yang mulai meninggi saya menanggapi perkataannya, ‘Saya tidak pernah tahu bahwa kedua orang yang selalu kami caci pada pagi dan sore hari dalam majelis Husainiyyah, terbaring di sisi kuburan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?!’.

Kami menyebut mereka berhala dan thagut, seperti yang kami terima dari para sayid dan pemuka kami. Bagaimana mungkin musuh-musuh Islam, musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya dikubur di satu tempat bersama dengan penghulu para nabi dan seluruh manusia?!

Saya berkata kepada laki-laki tua itu, ‘Apakah anda bergurau? Apa yang anda katakan ini pak tua?’

Orang-orang pun mulai mendengarkan ucapan saya karena tanpa sadar suara saya telah meninggi, sementara lelaki tua itu terheran-heran dengan penolakan keras yang saya lontarkan terhadap apa yang telah dia katakan bahwa di sini juga terdapat kuburan Abu Bakar dan kuburan Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Berikutnya saya segera mendatangi sayid kami. Saat itu dia berdiri di tengah domba-domba yang hilang, para anggota rombongan. Saya berkata kepadanya dengan suara tinggi, ‘Sayid kami, wahai sayid kami, dengarkanlah apa yang dikatakan oleh laki-laki ini, dia berkata bahwa Abu Bakar dan Umar juga dikubur di sini.’

Sayid Mu’ammim itu pun berkata kepada saya, ‘Benar, Abdushshamad, benar, Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar al-Faruq juga dikubur di sini.’

Saya spontan berteriak di tengah orang ramai menolak jawabannya, ‘Apa yang anda katakan ini? Ash-Shiddiq? Al-Faruq? Bukankah mereka itu berhala dan thagut, yang kalian ajarkan kepada kami, musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya?! Mengapa salah seorang digelari Shiddiq dan yang lain Faruq? Pahamkanlah saya wahai sayid kami!’

Sayapun melihat as-Sayyid memberikan isyarat dengan mata sambil berkata, ‘Abdushshamad, jangan membuat malu kita di tengah orang ramai, jika telah kembali ke penginapan, saya menjelaskan segala sesuatunya kepada Anda.’

Dengan suara yang semakin tinggi disertai orang yang semakin berkerumun saya justru membantah, ‘Tidak… tidak…. tidak…. Demi Allah, saya tidak akan meninggalkan tempat ini sampai Anda memahamkan saya sekarang juga, bagaimana berhala dan thagut dikubur di sisi Rasulullah? Bagaimana kaum Muslimin menerima situasi ini? Bagaimana Sayiduna Ali bin Abi Thalib membiarkannya? Bagaimana Ahlulbait menerima orang-orang kafir dikubur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Bukankah Abu Bakar telah merampas hak Fathimah seperti apa yang telah kalian ajarakan kepada kami? Bukankah Umar telah mematahkan tulang rusuk Fathimah az-Zahra’ seperti yang kami hafal dari kalian? Bagaimana Ahlulbait menerima orang-orang kafir itu dikubur bersama Rasulullah?’

Sayid berkata, ‘Abdushshamad, Daulah Umawiyah, merekalah yang tekah menguburkan mereka di tempat ini!’

Saya pun mengatakan, ‘Sayid!.....sekalipun saya ummi, tidak bisa baca tuis, tetapi Allah telah memberikan akal yang sempurna… bagaimana Daulah Umawiyah yang menguburkan mereka padahal mereka baru berkuasa setelah sayid kita, Ali?, sementara sayiduna Ali dan Abbas meninggal setelah Abu Bakar dan Umar? Anda sendiri telah mengatakan bahwa Sayyiduna Ali adalah Haidar (sang singa) dan al-Karar, dan tidak gentar menghadapi tekanan siapa pun dalam membela agama Allah?! Bagaimana mungkin beliau dan ahlulbait mengizinkan dua orang kafir ini dikubur bersandingan dengan penghulu para nabi?!’

Orang-orang pun berhamburan ke arah kami, sayid tersebut melarikan diri diiringi domba-dombanya yang tersesat meninggalkan area kuburan. Dengan suara lantang saya berteriak, ‘Hai orang-orang ramai pahamkanlah kepada saya, apakah saya ini sedang bermimpi atau apa?!’ orang-orang itu pun berusaha menenangkan saya, mereka berkata, ‘Berdzikirlah, ingatlah kepada Allah wahai Syaikh…. Berdzikirlah mengingat Allah!’

Sejenak kemudian seorang Masyayikh di al-Haram menghampiri dan memegang saya sambil berkata, ‘Ada apa dengan anda? Anda berteriak-teriak di sisi kuburan Nabi, ini tidak boleh…. Allah memerintahkan kita untuk merendahkan suara kita jika berada di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melalui firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ (٢)إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ (٣)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka Itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Hujurat: 2-3)’.”

Ayahku, H. Abdushshamad melanjutkan ceritanya,

Ayah tidak menguasai diri, meratap dan menangis. Kemudian Syekh tersebut kembali berkata, ‘Ada apa dengan Anda, saudaraku? Apa yang telah terjadi?’

Ayah menjawab, ‘Anda mengatakan bahwa Allah memerintahkan kita untuk merendahkan suara ketika berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam supaya kita tidak menyakiti beliau, bahwa Allah menguji kita melalui perintah ini… sementara saya, sejak kecil sampai saat ini tidak berhenti mencaci sahabat-sahabat beliau, tidak pernah berhenti mencaci istri-istri beliau! Jika dengan meninggikan suara saja telah menghapuskan amal-amal dan menyia-nyiakannya, seperti dalam ayat tersebut, bagaimana halnya dengan orang yang mencela sahabat-sahabat dan istri-istri Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sepenjang hayatnya?’

Maka berkatalah Syeikh tersebut, ‘Aku berlindung kepada Allah… Anda mencaci sahabat-sahabat beliau, dan istri-istri beliau, ummahatul mukminin? Apakah anda seorang Rafidhah?!’

Ayah menjawab, ‘Betul, saya seorang penganut Rafidhah, saya adalah sampah… saya…!!! Sekarang saya tahu bahwa saya telah tersesat! Saya telah disesatkan, saya betul-betul telah tertipu. Demi Allah! Demi Allah! Saya tidak pernah tahu bahwa Abu Bakar dan Umar dikuburkan di sisi Nabi di tempat yang sama. Tuan Syeikh jelaskanlah kepada saya, apakah Allah telah menipu Nabi-Nya? Apakah Allah mengkhianati Nabi-Nya? Apakah Allah tidak memuliakan nabi-Nya di kuburnya?!! Bagaimana Allah membiarkan orang-orang kafir dan musuh-musuh-Nya dan musuh Rasul-Nya dikuburkan bersisian dengan pusara Nabi?! Mengapa?! Mengapa Sayyiduna Ali bin Abi Thalib dan ahlulbait tidak mampu melarang penguburan keduanya di sisi beliau? Bagaimana Allah membiarkan orang-orang kafir dikuburkan bersama Sayiduna Muhammad, di tempat yang paling diagungkan di permukaan bumi, di Raudhah yang mulia, hingga hari kiamat?! Mengapa?! Berilah saya jawaban!

Betulkah mereka yang telah mengajari kami mencaci dua orang laki-laki ini orang-orang muslim atau para penjahat?!

Demi Allah sekarang saya mengerti, hanya dua kemungkinannya: bisa jadi Allah teledor menyia-nyiakan hak Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, wal ‘iyadzu billah, atau sayyid-sayyid kami dan mu’ammim kami yang mengkhianati Allah dan Rasul-Nya!!!’

Syekh tersebut berkata kepada Ayah, ‘Saudaraku Abdushshamad, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar Al-Faruq bukan hanya dikuburkan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di satu lokasi, mereka bahkan adalah sanak keluarga beliau: putri-putri mereka, Aisyah dan Hafshah radhiyallahu anhuma merupakan istri-istri beliau, ibunda kaum Mukminin berdasarkan nash al-Qur’an.’

Ayah berkata, ‘Ya Allah, laknatlah sayid-sayid kami! Ya Allah laknatlah para mu’ammim kami! Ya Allah, laknatlah sayid-sayid kami! Ya Allah, laknatlah para mu’ammim kami! Jika benar yang mereka katakan berarti Allah telah menikahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dengan wanita-wanita kafir dan keji, kemudian menguburkan beliau bersama ayah-ayah mereka yang kafir?! Bagaimana akal sehat bisa membenarkan ucapan ini?! Saya pun menangis tersedu-sedan.’ Syekh tersebut meraih dan merengkuh ayah dan berkata, ‘Alhamdulillah, Allah telah menghilangkan selaput yang menutup kedua bola mata anda. Marilah saya ajarkan kepada anda berwudhu dan shalat seperti yang diamalkan Rasulullah…’

Laki-laki itu pun menuntun saya keluar dari tengah kerumunan manusia, lalu kami menuju ke tempat khusus yang diperuntukkan untuk air zam-zam. Dia berkata, ‘Berwudhulah bersama saya seperti ini…’
Ayah pun berwudhu mengikutinya. ‘Demi Allah, begitu selesai, ayah merasakan betapa lapangnya dada ini, seolah-olah baru tahu bahwa Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.’

Setelah selesai ayah keluar dari Masjid Nabawy asy-Sayrif, begitu sampai ke tempat tim kesehatan dan melihat pimpinan rombongan, Ibrahmi al-Mudhaf yang sunni, ayah pun merangkulnya sambil menangis haru. Ayah berkata kepadanya, ‘Ibrahim al-Mudhaf, saudaraku, mulai saat ini saya tidak akan lagi mengatakan bahwa Allah telah menghinakan Rasul dan kekasihnya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sejak saat ini saya berlepas diri dari menghina ahlulbait, mereka lebih mulia dan lebih terhormat untuk menjadi pengecut yang takut memperjuangkan ucapan yang haq. Sejak saat ini, saya berlepas diri dari fitnah yang menodai kehormatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, istri-istri beliau yang suci, yaitu ibunda kaum Mukminin sebagaimana yang telah dijelaskan oleh nash al-Qur’an yang mulia. Mulai detik ini, saya tidak akan lagi mencela Rasulullah dan menyebut beliau gagal dan tidak mengerti mendidik sahabat-sahabat bagaimana seharusnya bersikap sepeninggal beliau. Mulai saat ini, saya berlepas diri dari perilaku orang-orang Rafidhah, meniru orang-orang Yahudi mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.’

Ayah pulang ke Kuwait dengan raut wajah yang berbeda dari saat berangkat. Beliau kembali dengan keimanan yang memenuhi hatinya. Dia kembali membawa ketenangan yang melapangkan dadanya. Dia kembali dengan cahaya pemahaman yang telah membebaskan akalnya dari kegelapan kebodohan, penyimpangan dan kesesatan.

Ayah segera menemui ibu, Ummu Hamid rahimahallah dan berkata kepada beliau, ‘Istriku sesungguhnya aku telah masuk Islam yang lain dari Islam yang telah menipu kita selama bertahun-tahun… saya telah masuk Islam, yang tidak ada kedustaan di dalamnya, tidak ada penipuan, kedengkian, kesyirikan, bid’ah, cacian dan kesesatan yang nyata… Jika engkau mengikuti langkahku, engkau tetaplah istriku. Jika tidak, kembalilah kepada keluargamu’, ibu pun berkata, ‘Demi Allah, aku tidak pernah mendapatkan pada dirimu selain cinta kepada kebaikan, aku tidak memiliki prasangka selain bahwa Allah telah memberikan taufik kepadamu, kepada suatu kebaikan yang besar. Aku akan selalu bersamamu; sekarang aku adalah muslimah sunni yang mengesakan Allah rabbul ‘alamin, aku berlindung kepada Allah dari perbuatan mempersekutukan-Nya apa dan siapa pun’

Waktu pun berlalu berbilang tahun. Ibu, Ummu Hamid, melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Umar oleh ayah (orang-orang Syiah sangat membenci sahabat-sahabat, khususnya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Dengan memberikan salah satu nama tersebut kepada anak bagi mereka menjadi salah satu tanda bahwa yang bersangkutan bukan penganut Syiah). Umar putra keempat ayah setelah saya (Hamid), Mahmud dan Adil. Ayah menghadapi penentangan yang keras dari tetangga-tetangga kami yang Rafidhi begitu mengetahui bahwa beliau telah meninggalkan agama mereka. Mereka melarang anak-anak mereka bergaul dan bermain dengan kami, anak-anak ayah, melarang istri-istri mereka mengunjungi ibu. Tetapi ayah mengahadapinya dengan penuh sabar dan tidak putus berdoa kepada Allah meminta jalan keluar. Hanya berapa tahun kemudian, Allah melimpahkan rezki yang tidak disangka-sangka, ayah memboyong kami pindah dari lingkungan Rafidhah tempat tinggal kami semula, ke distrik lain. Di sanalah ayah menghembuskan nafasnya yang terakhir, berpulang ke rahmatullah, mewariskan kepada kami sebuah agama yang haq.

Hal yang mengagumkan kemudian terjadi dalam kisah ini, banyak jamaah masjid dan keluarga beliau bermimpi melihatnya dalam kondisi yang sangat baik, masing-masing mereka melihat beliau memakai baju yang sangat putih bersih, duduk-duduk di sebuah tempat duduk yang bagus, pada tempat yang mulia sambil berkata, “Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayah ini kepada kami; kita tidak akan mendapatkan petunjuk seandainya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kita.” Demikian Abu Utsman Hamid Busyahri menutup kisah sadarnya orang tua beliau.

Ya Allah terimalah dia, al marhum biidznillah, Abdushshamad Mahmud Busyahri, dan tempatkan beliau di tengah orang-orang shalih, dan pertemukanlah dia dengan para shiddiqin dan syuhada dan mereka adalah sebaik-baik teman… dan berikanlah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui, amin…amin ya Rabb’ al-‘Alamin.

Menutup kisah ini, saya sampaikan kepada setiap orang Rafidhah, tahukah anda semua, mengapa Abdushshamad diberi hidayah oleh Allah kepada kebenaran? Karena satu sebab yang sangat sederhana, karena dia membuka diri untuk memfungsikan akalnya. Oleh karena itu, kapankah anda semua meniru tindakan beliau? Adalah sebuah aib besar jika seorang yang ummi, tidak bisa baca-tulis seperti Abdushshamad Busyahri rahimahullah mampu memfungsikan akalnya dengan baik, sementara kalian membiarkan akal kalian dikendalikan orang lain. Sehingga mereka bisa memperlakukan kalian sesuka hati mereka.

Sumber: Majalah Islam Internasional Qiblati, Ramadhan 1433 H, Agustus 2012 M, Edisi 10 th. VII, hal 84-89.

Right to Copy © 2012 Galeri Sunnah Site |Galeri Ilmu Qur'an dan Sunnah.

Sebagian besar artikel di sini merupakan tulisan orang lain, untuk itu silakan mengkopi dengan menyebutkan sumbernya.